Rabu, 06 Juli 2011

Ohai!

lukisan by http://www.lintasberita.com/mediabig/6d4764e96dbe8674b9b39ad57b79a336.jpg

Ohai!

Pada jiwa yang laut
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ikut

Ahai! Loba bola mata
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi kata

Tapi, bila baik iman
Laku diri akan taat
Pada tuju kian giat
Hari hari elok nian

Ohai! Nona mata jeli
Buka mata buka hati
Jaga laku jaga diri
Maut;ajal, satu kali

_______________________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 6 July 2011

je•li a 1 elok dan bercahaya (tt mata)

Karakter dasar pola tuang 4444 :

4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris,( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke ) , dimana untuk kata tunjuk tempat adalah suatu hal yang mempunyai sifat khusus pada makna suatu kalimat bila tidak disertakan: di,ke, sehingga tidaklah mengapa bila lebih satu kata, bila kata tersebut merupakan satu kesatuan makna pada kata terkait. (di,ke). Hal ini berlaku juga untuk sesuatu kalimat/kata yang walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata,masih bisa di tolerir, Bilamana Ianya, kata/kalimat tersebut menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat, orang, waktu dan atau yang setara, misal: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara , nama orang, penunjuk waktu, dst.
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak dan atau berima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.

Puisi pola 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra puisi/sajak/syair/pantun yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai ini.

Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi sanjak dan atau rima dengan aturan yang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat ( kata dasar ) ; 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika pesan/makna.

Sekali lagi perlu saya tekankan di sini, bahwasanya acuan dasar dari pola 4444 adalah sajak rima sastra akar leluhur, Namun begitu pada karya ini (yang selanjutnya saya sebut sebagai puisi pola 4444, lebih menitik beratkan pada jumlah huruf pada kata dan jumlah kata pada baris serta jumlah baris pada bait. Sedang saya pergunakan rima berpeluk semata untuk mendapatkan efec rima (metrum) saat dibaca. Satu lagi pada bacaan puisi pola 4444 dengan rima berpeluk. Pembaca akan mendapatkan efek gema. seakan kita ditarik lagi pada bunyi akhir awal bait. tarikan rima di baris awal bait dengan bunyi rima akhir dibaris akhir pada bait yang sama menciptakan suatu arus gravitasi kata dan atau gravitasi bahasa yang berseakan memantul dan menimbulkan bunyi yang bergema. Contoh: perhatikan efek gema yang ditimbulkan oleh rima yang saya beri tanda ( ) di bawah ini :

Pada jiwa yang la(ut)
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ik(ut)

Ahai! Loba bola ma(ta)
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi ka(ta)

Jadi dalam penggunaan rima tidak boleh asal mengejar bunyi saja, dalam pengertian "mengejar bunyi" yang saya maksudkan di sini, yaitu tidak hanya sekedar mencari kesamaan rima di akhir kalimat saja, padahal secara bentukan alur baris dan atau antar barisnya tidak saling terkait maksud/makna, jadi di sini yang saya maksudkan jangan hanya mengejar bunyi rimanya sahaja. Dan mengenai asonansi; perulangan bunyi vokal dalam deretan kata dan atau penggunaan aliterasi ; pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan, tidak mesti harus, yang pasti dasar pemikiran penciptaan karya ini sesuai dengan yang saya katakan diatas mengacu dari pola tuang sastra melayu pujangga lama tidak menyimpang dari pola rima berpeluk/berpaut, dan yang pasti tidak menyimpang aturan pola 4444.


salam lifespirit!

Sabtu, 11 Juni 2011

3 Sajak Rima Romantik "ala lifespirit"

lukisan by google



3 Sajak Rima Romantik "ala lifespirit"


1) Bianglala Cinta


Awal bersua dara jelita
Meluah rasa bahagia semata
Jiwa jiwa menembang asmara
Bercarita dewa dewi swargaloka

Hamba lihat membatas cakrawala
Bahana petir merejam rasa
Kulepas dara terbawa bayu
Sepuluh jari kulambai kaku

Duhai engkau Tuhan Sang Kholiq
Kenapa jua tercipta duka
Saat asmara merenda suka
Terbelah jiwa sembilu rasa

Pada kekasih nun jauh di mata
Surya berkabut berselendang mega
Menggumpal awan legam mustika
Kurentang gendewa, kupupus nestapa

Kini, kupetakpetak rasa gulana
Ku suluh kenang, ada segala
Padamu Tuhan ku menyemesta
Di kanvas langit kulukis bianglala

( by lifespirit'08 )



2) Landai


Ini kali kau laung rindu
Memangil segala padaku syahdu
Kenapa sebab hati membiru
Hingga resahmu di ujung kelu

Landai landai bayu di bukit
Melayuk daun rindu terungkit
Padamu sayang segala berkat
Kukalung doa sepenuh hasrat

Duhai engkau jelita hati
Bilakah cinta bila kau sangsi
Adanya diri memang begini
Bukan berarti ingkari janji

Oi cinta,datanglah peluk aku
Padamu sungguh asmara menderu

( by lifespirit ‘09 )


Landai = agak miring ; menurun sedikit demi sedikit



3) Bersamamu


Berjalan-jalan di taman bidadari,
kudengar segala riang bernyanyi,
dengan lembut kuhampiri dirimu,
sepenuh harap kugandeng tanganmu.

Suka suka berlatar pelangi,
indah nian warna warni,
oi,kutatap mesra merona pipimu,
berlapis senyum tersipu malu.

Bagai bunga musim semi,
merekah harum di taman hati,
segala duka pergi menepi,
kala sejoli riang menari.

Duhai Tuhan pemantik mimpi,
saat dua jiwa menyatu ada,
betapa hidup kian berarti,
terpindai makna indahnya syurga.



( by ifespirit ‘09 )

SEROJA

lukisan by google



SEROJA


Terbang setinggi burung melayang
bernyanyi riang berdecak kenang
bertatap mata bersayang-sayang
selayang pandang cinta terbayang

Lambai lambai indah dunia
bersama pujaan adanya suka
berharap harap asa sejiwa
lantunkan syair puisi bujangga

Duhai jelita bibir delima
terbuai aku indah seroja
putih suci memekar bunga
licin daun terkecup tirta

Jangan paksa lengguh asmara
tubalah nanti segala ada
bila hasrat meriak, bergelora
biar kugulat tubuhmu dengan tauziah; cinta
_____________________________________________
@ Imron Tohari_lifespirit ‘08

Senin, 30 Mei 2011

Badut-badut Politik

lukisan by google



Badut-badut Politik


Jam berdetak jantung meretak
Lalu lalang pengab-kan otak
Hilir mudik koar birokrat,
Cari simpati buahnya laknat

Bagi uang katanya amal
Retorika di sana sini
Dapat tahta lupa janji
Mikirin modal cepat kembali

Ini salah bener siapa
Tak tahu awal siapa mula
Tapi nyata ini terjadi
Seakan terpatri jadi tradisi

Ini sajak bukannya mortir
Jangan marah mawaslah diri
Bila rasa diri tersindir
Sucikan hati taubat Illahi

_________________________________________________
@ Imron Tohari _ LifeSpirit, 24108.rev.300511

Kamis, 19 Mei 2011

Sajak yang Kutulis Untukmu Mungkin Akan Kuberi Judul Piano

lukisan by google


Sajak yang Kutulis Untukmu Mungkin Akan Kuberi Judul Piano


Kursi yang menatapku itu
biasanya ada engkau
Dan jari jemari nan syahdu
menabur benih rindu

O, pemilik lentik jemari
berlaksa ilusi terpahat di mimpi
Tanpa bunyi apa ini diri
tut-tut nada sebisu sunyi

Pertalian hati
iakah serupa hening yang nyanyi?

_________________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit, 19 Mei 2011